Wednesday, May 8, 2013

Pacaran..Nggak Deh Ya...


Waktu  SMP dulu, sebenarnya Saya pernah ‘naksir’ sama seorang temen sebut saja si A. Umumnya idola cewek adalah cowok yang pinter, alim, jago olahraga juga kelebihan-kelebihan lainnya. Tapi justru Saya tidak..Saya malah naksir si A yang bandelnya gak ketulungan, super cuek dan tukang terlambat. Ini kali ya..yang namanya cinta monyet, ups…nggak mau ah, lha wong Saya bukan monyet. Lebih tepat cinta pertama. Cinta ? apa pula artinya..kayaknya nggak pas juga istilahnya. Tetapi yang jelas, itu kali pertama Saya merasa tertarik dengan seorang laki-laki. Untungnya Saya terlalu pemalu untuk menunjukkan rasa suka pada si A. Jadinya perasaan suka (lebih tepatnya tertarik) Saya simpan rapat-rapat. Tak satupun orang yang tahu, kecuali Saya sendiri dan juga Anda tentunya yang membaca kisah Saya ini. Waktu itu…Saya belum paham, kalau dalam Islam memang pacaran itu dilarang. Sampai lulus SMP, perasaan itu masih tersimpan rapat sampai hilang dengan sendirinya. Karena kebetulan Saya dan si A tidak satu SMA.
Jaman SMA, lagi-lagi juga Saya pernah naksir seorang teman (sebut saja si B) yang usilnya minta ampun…dia sering banget ngusilin Saya. Anak yang super jail di kelas. Sehari saja tidak masuk kelas, sudah pasti kelas terasa sunyi senyap. Walau begitu diem-diem Saya menaruh hati sama si B. Mungkin di mata temen-temen akrab Saya waktu itu, Saya nampak aneh…wanita yang frigid alias dingin alias nggak doyan laki-laki…secara tampilan Saya memang jauh..dari sosok feminin. Mungkin kalau seragam sekolah bebas (tidak harus pake rok), Saya bakal milih pakai celana. Saya juga paling nggak bisa dandan layaknya cewek pada umumnya yang selalu tampil cantik dan menarik. Jelas saja dengan tampilan Saya yang ala kadarnya, sudah pasti juga kayaknya temen laki-laki Saya juga nggak bakalan naksir kalau lihat tampilan Saya yang nggak ayu untuk ukuran cewek.
Eits, jangan salah. Saya manusia normal Bung…Saya tetaplah wanita dengan segala kodratnya. Layaknya wanita normal lainnya, Saya juga cukup tergetar saat tidak sengaja beradu pandang dengan Si B. Untungnya…Saya bisa menyembunyikan perasaan Saya dengan rapi. Mungkin perasaan ini muncul karena sebenernya Saya dan si B juga sama-sama jail di kelas. Jadi interaksi kami lebih intens. Bener banget pepatah Jawa bahwa : witing tresno, jalaran soko kulino ledek-ledekan and jail-jailan ini lebih tepatnya untuk ‘kasus Saya’. Sebenarnya saya juga belum bisa mendefinisikan rasa Saya terhadap si B. Entahlah..yang pasti, Saya merasa normal sebagai wanita saat berhadapan dengan si B. Mendadak Saya jadi salah tingkah, malu dan kikuk…untung banget..lagi-lagi temen akrabku pun nggak ada yang tahu. Pun juga si B..dan Saya pun juga tidak terlalu perduli dengan perasaan si B saat itu.

Pembawaan yang cenderung maskulin mungkin lebih karena pengaruh keluarga besar Saya. Harap maklum Saudara-saudara, Saya ini adalah adik dari 5 kakak laki-laki. Sedikit banyak sifat kelaki-lakian ada pada diri ini. Masih kuingat, betapa kakak pertamaku akan marah besar melihat adik perempuannya berdandan ala perempuan. Padahal memang adiknya perempuan. Melihat bandana menghias manis di rambutku saja, Kakak langsung merebutnya. Tidak sekedar direbut, tetapi juga..dipatahkan ! Kata kakak itu cewek yang pake bandana itu tandanya cewek centil, dan dia paling..tidak suka. Walhasil dandanan ala Saya yang paling mutakhir hanya mengikat rambut jadi satu dengan ikatan rambut yang biasa…banget, bukan ikatan rambut yang bentuknya indah dan lucu. Itu saja tidak lebih, tidak ada polesan kosmetik sedikitpun bahkan bedak saja tidak punya. Sampai-sampai guru waktu SMP pernah berpesan, waktu Saya akan bertanding mewakili sekolah untuk Lomba Cerdas Tangkas (LCT)-P4 tingkat provinsi di Semarang dulu…” jangan lupa pupuran (baca: bedakan) ya..” padahal bedakpun memang tidak punya. Saya pun tampil apa adanya di lomba mewakili sekolah waktu itu…dan…foto hasil jepretan guru untuk mengabadikan lomba tersebutpun nampak buram..gara-gara wajah polos Saya J he2…masa bodohlah.
Karena pengaruh kakak-kakak Saya itulah, Saya sangat tidak suka dengan gaya kemayu perempuan apalagi yang sedikit-sedikit menangis alias cengeng. Tetapi, Saya ini temen yang asyik buat curhat lho…Saya pendengar yang cukup baik. Sudah sangat sering temen-temen SMA-ku waktu itu curhat tentang perilaku pacar-pacar mereka. Dalam pandangan Saya waktu itu..betapa ruginya orang yang pacaran. Rasanya rugi saja, memikirkan ‘pacar’ yang belum tentu juga mikirin kita (maksudnya pacarnya, bukan Saya). Kalau ada yang bilang, pacaran buat nambah semangat belajar..ah, menurut Saya itu juga bohong besar. Temen Saya malah yang pacaran satu kelas (kalau istilahnya biologinya in breeding) dua-duanya malah HER FISIKA..apa nggak malu? Kalau Saya ogah deh
Saat jaman SMA pun, Saya masih belum paham hukum Islam masalah pacaran. Saya bahkan sempet-sempetnya bikin cerpen untuk mading kelas, ngomporin orang buat pacaran. Masih inget dengan jelas, judul cerpen Saya waktu itu “Wo Ai Ni” cerpen yang berkisah ‘penembakan’ cowok kepada cewek supaya resmi jadian pake bahasa mandarin yang artinya ai lop yu (hm, paham kan maksudnya?). Ini adalah cerpen Saya yang pertama dan terakhir sampai akhirnya Saya memahami Islam yang sebenarnya. Mudah-mudahan kisah yang Saya tulis ini menebus cerpen yang Saya tulis waktu itu. Saya memang memilih tidak pacaran karena dalam pandangan Saya pacaran itu banyak ruginya dan buang-buang waktu. Sikap yang belakangan baru Saya syukuri waktu kuliah. Saat saya bener-bener paham bahwa menolak pacaran nggak sekedar karena banyak ruginya, tetapi pacaran memang tidak diridhoi Allah SWT alias diharamkan.    
        Perasaan Saya terhadap si B pun perlahan mulai terkikis seiring dengan sibuk dan padatnya aktifitas sekolah. Penyebab lain Saya melupakan rasa terhadap si B, karena di kelas III Alhamdulillah Saya sudah mulai belajar menutup aurat. Mulai kelas III SMA, Saya sudah berkerudung meskipun belum sepenuhnya istiqomah. Rasanya nggak pantas saja cewek berkerudung pacaran, berpikirpun tidak. Tetep saja, Saya masih belum paham hukum pacaran meski sudah berkerudung. Karena berkerudung pun sekedar kerudungan saja tidak disertai keinginan belajar Islam lebih dalam. Berkali-kali Saya menolak ajakan temen yang aktif di Rohis buat ikut kajian mentoring di sekolah. Saya hanya belajar dan belajar supaya bisa lulus dengan nilai memuaskan. Untungnya juga di kelas III Saya dan si B beda kelas. Saya masuk IPA, dia di IPS. Kelas IPA sangat padat jadwalnya, PR juga banyak..rasa-rasanya nggak sempet bagi Saya untuk memupuk rasa apalagi sampe ‘pacaran’. Saya cukup tahu diri, Saya harus belajar keras supaya bisa masuk universitas negeri selepas SMA nanti. Dengan kondisi keluarga Saya, tidak mungkin rasanya memilih kuliah di swasta yang biayanya selangit. Alhamdulillah, Saya pun terdampar di kampus yang sering dijuluki juga Institut Pesantren Bogor.
            Masa-masa jadi mahasiswa baru, banyak penyesuaian yang harus Saya lakukan. Saya tentu tak ingin ketinggalan dibandingkan dengan temen-temen baru Saya. So, belajar pun menjadi menu keseharian Saya sebagai awal menguji prestasi di dunia mahasiswa. Alhamdulillah, di semester pertama Saya bisa meraih IPK tertinggi di Jurusan Saya. Berprestasi di tempat baru sebenarnya juga strategi saya mencari teman. Dengan prestasi ini, Saya tak harus repot berkenalan kesana kemari mencari teman. Mereka datang dengan sendirinya, bertanya tentang Fisika, belajar bersama Pengantar Matematika juga diskusi tentang Kimia.
            Mulai mengenal teman-teman sejurusan, penyakit lama Saya kambuh lagi. Ups, penyakit ini sebenarnya bukti bahwa Saya ini adalah wanita normal alias bukan abal-abal he2. Singkat cerita, di jaman mahasiswa pun (masih tingkat satu semester II) Saya juga naksir temen cowok (sebut saja si C). Tidak jauh berbeda dengan pengalaman jatuh cintrong sebelumnya dengan si A, dan Si B…selera pun masih sama. Ya si C ini, juga sosok yang luar biasa cuek..entahlah..Saya selalu tertarik dengan orang model begini.  Sebenernya perasaan ini menyiksa bagi Saya. Membuat Saya tidak nyaman dan terganggu sekali. Sebisa mungkin rasa ini harus hilang. Saya pun mulai ikut organisasi yang ada di kampus.
            Kegiatan yang pertama kali saya ikuti waktu itu adalah menjadi peserta acara Pesantren kilat yang bertajuk BUNGA DAKWAH (Buku Ngaji dan Dakwah). Di salah satu materi yang disampaikan mbak-mbak yang selalu menentramkan…pas..banget dengan suasana hati Saya. Yup, materinya tentang mengelola rasa cinta…rasa yang sangat mengganggu Saya. Saya sungguh tertohok saat mendengar kutipan ayat QS. At Taubah Ayat 24 dibacakan Mbak Nisa waktu itu :
Katakanlah : `Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.` Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” [TQS.At Taubah(9):24].
Mendengar penjelasan ayat ini, tambah membuat hati Saya mengkerut karena takut. Bagaimana tidak, pada ayat ini Allah memberikan peringatan bahwa jika orang-orang yang beriman lebih mencintai bapak-bapaknya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, istri-istrinya, kaum keluarganya, harta kekayaannya, perniagaannya dan rumah-rumahnya daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya serta berjihad menegakkan Asma-Nya, maka biarlah mereka berbuat demikian sampai datang saatnya, bahwa Allah akan mendatangkan siksa kepada mereka cepat atau lambat, mereka yang bersikap demikian itu adalah orang-orang fasik yang tidak akan mendapat hidayah dari Allah SWT. Ayat ini memberikan peringatan sebagai berikut :
1.  Bahwa cinta anak terhadap bapak adalah naluri yang ada pada tiap-tiap diri manusia. Anak sebagai keturunan dari bapaknya adalah mewarisi sebagian sifat-sifat dari tabiat-tabiat bapaknya.
2.  Bahwa cinta bapak kepada anaknya adalah naluri juga, bahkan lebih mendalam lagi karena anak merupakan jantung hati yang diharapkan melanjutkan keturunan dan meneruskan sejarah hidupnya. Dalam hal ini bapak rela menanggung segala macam pengorbanan untuk kebahagiaan masa depan anaknya.
3.   Bahwa cinta kepada saudara dan karib kerabat adalah suatu cinta yang berjalan dalam rangka pelaksanaan hidup dan kehidupan tolong-menolong, bantu-membantu dan bela-membela baik kehidupan rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat. Cinta yang demikian itu akan menumbuhkan perasaan hormat-menghormati dan sayang-menyayangi.
4.  Bahwa cinta suami istri adalah cinta yang terpadu antara dua jenis makhluk yang akan membina keturunan dan membangun rumah tangga untuk kebahagiaan hidup dan kehidupan dalam dunia dan akhirat. Oleh karena itu keutuhan hubungan suami istri yang harmonis menjadi pokok bagi kerukunan dan kebahagiaan hidup dan kehidupan yang diidam-idamkan.
5.  Bahwa cinta terhadap harta dalam segala jenis bentuknya baik harta usaha, warisan, perdagangan maupun rumah tempat tinggal dan lain-lain adalah cinta yang sudah menjadi tabiat manusia. Semua yang dicintai merupakan kebutuhan yang tidak dapat terpisahkan bagi hidup dan kehidupan manusia yang diusahakannya dengan menempuh segala jalan yang dihalalkan Allah SWT.
Adapun cinta kepada Allah SWT maka wajib didahulukan daripada segala macam cinta tersebut di atas karena DIA-lah yang memberi hidup dan kehidupan dengan segala macam karunia-Nya kepada manusia dan DIA-lah yang bersifat sempurna dan Maha Suci dari segala kekurangan.
Begitu juga cinta kepada Rasulullah SAW haruslah lebih dahulu diutamakan pula karena Rasulullah SAW itu diutus Allah SWT untuk membawa petunjuk dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Firman Allah : “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (TQ.S. Ali Imran: 31). Rasulullah juga bersabda : “ Tidaklah sempurna iman salah seorang kamu sebelum ia mencintai aku lebih dari mencintai orang tuanya, anak anaknya dan manusia seluruhnya. “
(H.R. Bukhari, dan Muslim dari Anas).
Sederhananya, urut-urutan rasa cinta dari yang pertama sampai terakhir adalah : cinta kepada Allah, Rasulullah, jihad dan dakwah, baru cinta kepada bapak, ibu, saudara-saudara, kerabat dekat, suami ataupun istri dan cinta terhadap harta yang merupakan tabiat manusia biasanya. Lalu ada dimana posisi rasa cinta terhadap pacar? Kawan, lihatlah dan renungkanlah penjelasan QS. At Taubah ayat 24 tersebut di atas. Resapilah penjelasannya sampai ke relung-relung hatimu yang terdalam dan berpikirlah dengan jernih. Niscaya, engkau akan merasakan persis seperti apa yang kurasakan saat itu. Jika rasa cinta yang jelas-jelas dibolehkan antara ayah dan anak, anak dan orang tua, suami dan istri, juga terhadap harta dengan kadar cinta yang lebih dibandingkan rasa cinta terhadap Allah dan RasulNya maka sungguh kita akan tergolong orang-orang yang fasik. Apalagi rasa sukamu, rasa ‘cinta’mu kepada lawan jenis alias pacar? Sungguh Saya sendiri tidak tahu, masuk golongan yang mana. Mungkin golongan yang jelas-jelas sangat fasik. Astagfirullahal adzim. Ampuni hambaMu ini, ya Rabb..mudah-mudahan Saya bukanlah orang yang terlambat untuk bertobat. Alhamdulillah, hidayah BUNGA DAKWAH sungguh Saya syukuri. Saya tak akan lagi galau apalagi melow lantaran bingung nggak punya pacar. Setelah memahaminya, Saya bertekad tak akan ada lagi si D, si E, apalagi si Z orang-orang yang akan Saya taksir berikutnya. Jika saatnya tiba, ketika Saya siap untuk menikah maka yang Saya cari adalah laki-laki sholeh yang akan menjadi suami Saya.
Kawan, rasa tertarik terhadap lawan jenis sebenarnya normal-normal saja. Yang tidak normal adalah kalau kamu sampai suka dan tertarik dengan sesama jenismu sendiri. Orang bilang jeruk kok makan jeruk, Hiy…apa jadinya ya ? Alhamddulillah, Allah sungguh menyayangi kita hamba-hambaNya. Tidak dibiarkanNya rasa itu tumbuh liar tanpa arah. Allah memberikan aturan-aturan yang jelas tentangnya. Bukan kayak ayam jagomu ya…yang maen embat…lihat ayam betinamu nampak cantik dan menarik. Ya…jangan mau disamain dong? Ayo menej dan kelola rasamu terhadap lawan jenis. Kamu toh tak akan mati kalau nggak pacaran, so apa yang mesti kamu khawatirkan?
Waspadalah, Kawan. Rasa tertarikmu terhadap lawan jenis akan muncul karena adanya persepsi dan fakta. Kalau dalam persepsimu Si Doi adalah sosok yang alim, menarik, jago olahraga dan segala rupa pesonanya…buang jauh-jauh..karena persepsimu pun juga belum tentu benar. Kamu juga tidak perlu selalu bersama-sama dengan Doi. Kalau Doi (sebagai fakta) selalu ada bersamamu kemanapun kamu pergi, yakin deh…lama-lama kamu jadi simpati, empati, ujung-ujungnya kalau mau jujur kamu bakalan naksir juga. So, bertemanlah dengan sesama jenis saja. Mereka juga nggak kalah asyik kok diajak diskusi, belajar atau makan bakso bareng dan yang pasti…karena lebih aman dan nyaman bagimu. Sudah waktunya untuk Katakan TIDAK pada PACARAN.  Tak usah khawatir dengan jodoh di masa depan. Ingat dan yakin saja dengan janjiNya :
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (TQS. Ar Ruum : 21).
Mau bukti ? Saya contohnya….:) Pacaran, Nggak…deh…Ya.

No comments:

Post a Comment