Sunday, December 22, 2013

Saat Merindukanmu...Emak

Emak, ijinkan aku menulis tentangmu…

Emak, kau sungguh luar biasa… Kau begitu sabar mengasuh, membesarkan 12 anakmu termasuk aku.  Dengan kondisi ekonomi seadanya, kau bekerja keras demi kami semua anak-anakmu. Meski engkau tak sempat mengenyam pendidikan sekalipun, tekadmu sungguh kuat menyekolahkan kami hingga sampai pendidikan tingkat atas.  Alhamdulillah engkau boleh tersenyum sekarang, sudah ada 8 sarjana dari anakmu2, menyusul calon sarjana 2 anakmu yang bungsu. Bahkan 2 anakmu yang lain saat ini juga berkesempatan menempuh pendidikan master.

Bukan persoalan mudah tentunya bagimu berjuang menyekolahkan kami. Di saat orang-orang sekampung mengirim anak-anaknya menjadi pekerja di ibukota engkau bahkan menyuruh kami tetap maju belajar. Karenamu, kami berani bercita-cita tinggi. Saat teman-teman SDku dulu kebingungan saat ditanya guru tentang cita-cita, dengan mantap anakmu menjawab menjadi seorang insinyur pertanian dan bahkan sejak SD pun sudah terbayang kelak kuliah nanti di Institut Pertanian Bogor. Tak terpikir sedikitpun untuk ukuran tingkat ekonomi keluarga, bisa jadi cita-citaku sebatas mimpi di siang bolong. Tetapi karena kegigihanmulah, kami anak-anakmu berani bermimpi. Menjadi orang yang sukses dengan bekal pendidikan tinggi. Alhamdulillah mak, cita-cita masa kecilku terkabul sudah.

Keterbatasan bukanlah penghalang, itulah yang engkau ajarkan kepada kami. Bahwa hidup haruslah optimis, pantang menyerah dan putus asa. Allah Sang Maha Pengasih tak akan mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya yang gigih berusaha dengan rasa tawakkal yang tinggi. Terbayang suatu masa ketika pengumuman USMI (undangan seleksi masuk ipb) menyebut namaku sebagai salah satu yang beruntung masuk IPB tanpa tes, begitu berseri-serinya hatiku saat itu. Cita-cita terbayang di depan mata. Bahkan aku tak berpikir sedikitpun masalah biaya, biaya spp, biaya hidup dll yang tentu saja tidak murah. Sementara aku masih punya 5 adik yang juga masih sekolah. Dengan optimisme yang tinggi, kau tersenyum menyambut kabar gembira itu. “Bismillah…teruslah sekolah, Allah pasti kasih jalan keluar…” begitu kata2mu menyingkirkan keragu2an yang mulai menghampiri Bapak saat memikirkan masalah biaya kuliahku nanti.
Meski dengan uang pinjaman orang terkaya di desaku..Alhamdulillah aku bisa kuliah di kampus yang kuimpikan sejak SD dulu...belakangan baru kutahu, hutang itu lunas sesaat menjelang wisudaku. Subhanallah…meski banyak cibiran para tetangga dan kucilan dari keluarga besar. Engkau tetap maju melangkah membela anak-anakmu.

Emak, mungkin aku tak terlalu pandai membalas segala pengorbananmu…semasa sekolah dulu, kucoba berusaha berprestasi..menjadi juara kelas semata-mata supaya melihat senyum-mu saat kuangsurkan rapot tiap kali kenaikan kelas. Meski yang menikmati pujian langsung saatku berprestasi adalah bapak, karena engkau memang tak pernah mengambilkan rapotku di sekolah. Meski kau tak paham angka-angka di rapot, senyum-mu yang mengembang membahagiakanku. Hanya itu yang bisa kulalukan demi menghapus keringat yang mengucur karena kerja kerasmu.

Emak, seperti yang sering engkau katakan kepada kami anak-anakmu bahwa tak sedikitpun balas budi kau harapkan dari kami…kami akan berusaha memenuhi harapanmu..menjadi anak-anakmu yang shalih dan shalihah…agar kita selalu terhubung melalui doa-doa yang kami panjatkan untukmu…untuk kenyamananmu di masa penantian…semoga Allah memberikan tempat terindah bagimu..berkumpul bersama dengan orang-orang shalih..diampunkan segala dosa-dosa di dunia, diterima semua amal baikmu..dan agar Allah Ta’ala berkenan mengumpulkan kita kembali di syurgaNya yang abadi. Amin ya Rabbal Alamiin.

Monday, December 2, 2013

Nikah Gratis VS Kondom Gratis

         Sudah ke-7 kalinya Pekan Kondom Nasional kembali digelar, kenyataannya jumlah penderita yang terinfeksi HIV AIDS bukannya berkurang justru cenderung bertambah setiap tahunnya. Ini artinya kondomisasi bukanlah solusi. Meskipun tujuannya untuk mengurangi dan menekan jumlah HIV AIDS dengan membagikan kondom secara gratis bagi pelaku hubungan seks beresiko (PSK, lelaki hidung belang, pengguna narkoba dll), bisa dipastikan upaya ini juga akan gagal. Apalagi ‘kesaktian’ kondom yang mampu menahan virus HIV sangat diragukan. Kondomisasi hanya akan menyuburkan perilaku seks bebas yang justru menjadi sebab utama HIV AIDS. Alih-alih mengurangi justru akan menambah jumlah penderita HIV AIDS karena peluang melakukannya justru difasilitasi. Siapa yang bisa menjamin pelaku seks beresiko hanya akan melakukan seks bebas dengan pasangan yang tetap, mereka akan merasa bebas melakukannya dengan siapapun karena merasa aman dengan kondom.

Pembagian kondom secara gratis di khalayak umum seperti mall, kampus, sekolah justru akan memicu munculnya seks bebas lebih luas lagi. Yang paling diuntungkan tentu saja kapitalis pemilik bisnis kondom karena omzetnya bisa-bisa melonjak drastis. Di sisi lain bisa jadi ada beberapa pasangan yang sudah siap menikah tetapi terkendala biaya. Alangkah lebih manfaat alokasi dana pemerintah untuk membagikan kondom secara gratis dialihkan untuk menikahkan secara gratis pasangan-pasangan yang mampu menikah tetapi terkendala biaya. Nikah gratis juga bisa ditawarkan bagi pelaku seks beresiko supaya menghentikan perilakunya agar tidak menular kemana-mana, tentunya dengan mengajak mereka untuk bertobat terlebih dahulu. Jika mereka sudah menjadi pasangan yang sah sebagai suami istri, pemakaian kondom baru dibolehkan dengan segala resikonya. 

SMART menggunakan Smartphone

Belakangan sebulan yang lalu, beredar broadcast (BC) tentang video asusila anak SMP lewat ponsel (BBM) dan juga sosmed lainnya. Alih-alih ingin memberi ‘peringatan’ , justru video beredar luas dengan cepat karena menyertakan link video yang dimaksud. Kita tidak bisa memastikan semua pemegang ponsel (smartphone) benar-benar smart sehingga cukup menDELETE BC tersebut tanpa perlu melihatnya. Padahal, jaman sekarang anak SD saja tentengannya BB. Bagaimana kalau dia malah salah KLIK, sudah tentu menjadi tontonan berbahaya.
Smartphone hanyalah sebuah alat. Ke’smart’annya tergantung si pemakainya. Khususnya buat pengguna yang masih harus diawasi orang tua. Sungguh, perhatian orang tua tak tergantikan dengan smartphone tercanggih sekalipun. Walau sibuk, bukan berarti dengan memberikan smartphone, tugas orang tua selesai. Orang tua perlu MELEK teknologi agar bisa mengontrol ke’smart’an anaknya menggunakan smartphone. Apa benar digunakan hanya untuk hal-hal baik saja ? browsing pengetahuan untuk memudahkan mengerjakan tugas sekolah, menjalin komunikasi dengan keluarga yang jauh, atau bahkan memakai smartphone untuk belajar bisnis.  Bukan smart namanya kalau smartphone dipakai hanya untuk gaya-gayaan, upload foto, merekam adegan porno dan tindakan bodoh lainnya. Semuanya kembali kepada kita sebagai penggunanya, memilih menjadi SMART atau “OON” dengan smartphone.