Showing posts with label give away. Show all posts
Showing posts with label give away. Show all posts

Tuesday, July 30, 2013

Emak-ku…ORTEGA



Berbahasa Indonesia dalam keseharian baru Saya lakukan saat jadi mahasiwa. Itu pun karena teman-teman kuliah Saya berasal dari seantero negeri, hampir setiap daerah ada perwakilannya. Ada dari Sunda, Jawa, Madura, Sumatera, Batak dan juga Papua. Ya, kemampuan berbahasa Indonesia sangat membantu lancarnya komunkasi kami, khususnya kalau harus berbicara dengan teman-teman luar Jawa yang Saya sama sekali tidak tahu artinya. Bahkan sesama Jawapun juga sangat beragam bahasanya. Sebagai warga ORTEGA (baca=ORang TEgal Asli), bahasa Saya terutama logat seringkali mengundang tawa tidak hanya dari teman luar Jawa bahkan sesama Jawa pun juga menertawakan logat Tegal. Orang bilang ngapak-ngapak, bahasa yangmengandung unsur komersial karena bisa dipakai mencari uang lewat melawak seperti yang dilakukan Parto, Cici, Kasino, dan lainnya. Sumpah, mereka bukan sudara-saudara Saya :)

Kalau Saya yang makan bangku sekolahan saja demikian lugunya, apalagi Emak (baca= Ibu) yang sejak lahir, sampai beranak 12 dan bercucu tinggalnya tetep di kampung-kampung di Tegal juga. Otomatis kemampuan berbahasa Indonesia pun nggak nambah-nambah. Bisa praktek berbahasa Indonesia pun kalau kebetulan kampung Kami kedatangan tamu dari Jakarta. Rasanya bangga banget bisa ‘nyambung’ ngobrol dengan mereka. Bagi Saya, bahasa orang Jakarta itu identik dengan bahasa Indonesia.

Kebetulan keluarga saya maniak dengan sandiwara radio. Ups, terpaksa maniak ding coz saat itu kami belum punya televisi. Jadinya radiolah satu-satunya hiburan bagi kami. Di antara program radio yang jadi favorit keluarga adalah sandiwara radio yang tokohnya Baskoro dengan adiknya bernama Damayanti…saat itu Saya masih kelas 2 SD jadi lupa judulnya. Kalau tidak salah ingat sandiwara radio tersebut berkisah kehidupan modern perkotaaan di Jakarta, jadi bukan cerita yang berlatar jaman dahulu kala macam Saur Sepuh, Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara dan lain-lain. Para penggemar sandiwara radio, pasti tau deh. Nah, yang paling Saya ingat waktu itu Emak seringkali mengangguk-anggukkan kepalanya..sepertinya beliau ngerti benar cerita di radio. Waktu itu Saya masih belum paham kata-kata dalam bahasa Indonesia .
“ Emak..ngerti ya ? “ Tanya Saya.
“Ya iyalah…” jawab Emak saya percaya diri.

Selang bertahun-tahun kemudian, saat usia Saya 17 tahun (SMA kelas 2), akhirnya ‘rahasia’ Emak terbongkar juga. Waktu itu pertama kalinya Emak akan punya menantu dan menantu pertamanya ini adalah orang Jakarta asli. Waktu mau nganter Mas (Kakak laki-laki) Saya melamar calon istrinya, Emak bingung luar biasa. Bisa tebak nggak kawan? Yup, Emak bingung nanti ‘ngomong’ apa sama calon besan. Karena harus bisa ngomong bahasa Jakarta kan, biar nyambung.
“ lho Emak ngerti kan ngomong Jakarta..lha mbiyen waktu ngrungokna radio ngangguk-ngangguk jarene ngerti..”*
(*” Lho, Emak tahu kan ngomong bahasa Jakarta, lha dulu waktu ndengerin radio ngangguk-angguk katanya ngerti “)
“ ya…ngerti sih..artine wong Jakarta ngomong apa…tapi ora bisa njawab yen ditakoni”*
(*” Ya…ngerti sih…artinya orang Jakarta ngomong apa, tetapi nggak bisa njawab kalau ditanya “)
Emak kelihatan bingung.
“ Wislah….engko koen meneng bae ning kana ya, ben enyong bae sing ngomong”
(*” Sudahlah…nanti disana Kamu diam saja ya…biar Saya saja yang bicara. “)
Tegas Bapak, menghalau galau di hati Emak. Asal kalian tahu, Bapak Saya ini ahli macam-macam bahasa lho. Ada bahasa Tegal, bahasa Jawa Kromo, Jawa Ngoko, bahasa Sunda, bahasa Jawatimuran dan juga…bahasa Jakarta. Yang nggak bisa bahasa Inggris hahaha…

Hari H pun tiba, saat pertama kalinya Emak bertemu dengan calon besannya yang orang Jakarta. Setelah seremonial acara lamaran selesai, giliran Emak nampak bicara dengan calon besan perempuan.
Dengan terbata-terbata Emak bilang :
“ Maafkan Enyong ya…tidak bisa lancar ngomong bahasa Jakartane. Cuma ngertine sethithik
(*”Maafkan Saya ya…tidak bisa lancar ngomong bahasa Jakarta. Cuma tahu sedikit. “)
Dengan serta merta calon besan perempuan memeluk Emak, katanya :
“ ALHAMDULILLAH….Ibu….BISA ngomong Jakarta….??? Itu barusan Ibu ngomong lho…”
Emak hanya tersenyum simpul…dan Kami yang hadir dalam majelis seremoni lamaran pun terpingkal-pingkal melihat kekikukan Emak.

===Rindu banget dengan Emak====
NB : cerita ini diikutkan ke giveaway-perdana-mbak fardelyn-hackys

Tuesday, June 11, 2013

Cerdas Belanja Online Ala Saya

Kemudahan mengakses internet sekarang ini membuat dunia terasa menjadi demikian sempitnya. Tak harus punya gadget canggih, hp biasa sekalipun asalkan ada fasilitas GPRS dan terisi pulsa tentunya, sudah bisa membuat kita terhubung dengan dunia maya. Aktifitas online pun seolah menjadi gaya hidup masa kini. Tak perlu berpanas-panas ria, berjalan berjam-jam mengunjungi sebuah mall hanya untuk mencari baju idaman. Semuanya kini tidak tak perlu lagi anda rasakan. Cukup duduk manis, buka internet langsung  klik mesin pencari (search engine) seperti Google dan ketikkan nama barang yang anda inginkan kemudian Klik ENTER. Nggak pake lama berderet-deret situs akan muncul menjajakan barang yang anda cari. Anda tinggal memilih-milih dan mencari yang cocok kemudian kontak langsung penjual untuk negosiasi harga selanjutnya transfer uang sejumlah harga yang disepakati terus tinggal duduk manis menunggu barang idaman datang. Sederhana dan mudah bukan ?

Tentu saja, meski terlihat mudah anda harus berhati-hati. Kejahatan pun ternyata juga ada di dunia maya. Kalau anda tidak jeli, bisa-bisa anda membeli di sebuah situs abal-abal yang hanya mengeruk uang anda selanjutnya kabur dan anda hanya bisa melongo karena barang idaman tak kunjung datang. Saya pribadi memulai aktifitas belanja online sejak 2008, waktu itu menjelang hari pernikahan. Belanjanya pun di mantan teman kost saya jaman kuliahan yang kebetulan menjual barang-barang yang saya inginkan. Jual beli online sangat mengutamakan kepercayaan, walaupun temen saya berjualan dengan menggunakan blog gratisan (waktu itu masih booming-boomingnya multiply). Di saat orang-orang hanya mengisi multiply-nya dengan curhat pribadi, temen saya cerdik memakainya sebagai alat pajang dagangan. Karena secara pribadi saya mengenalnya dengan baik, maka saya pun berani belanja ke dia. Kebetulan dia menjual gamis muslimah yang sedang saya cari. Persiapan pernikahan yang saya lakukan sendiri membuat saya sangat berterima kasih kepada temen saya ini. Cukup melihat gambar gamis yang  dia pajang, kemudian mentransfer sejumlah uang dengan “harga teman=harga diskon” saya sudah mengirit waktu berrjam-jam kalau saya mencarinya di mall yang waktu itu gamis muslimah masih sangat susah dicari.

Selanjutnya belanja online secara serius baru saya lakukan di tahun 2009, saat anak pertama saya lahir. Kondisi baru punya anak dengan nol pengalaman, sementara di rumah saya sendirian hanya berdua dengan suami membuat saya gampang capek dan saya tidak mood kalau harus belanja ke luar rumah. Internet menjadi andalan saya. Kebetulan saat itu saya juga sedang mencari barang yang susah dicari di dunia offline di daerah saya tinggal. Semua ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya termasuk saya. Sebagai ibu yang juga bekerja di luar rumah, saya bertekad memberikan ASI full kepada anak saya, terutama di 6 bulan pertama kehidupannya. Tentu saja di saat saya tidak bersama dengan anak, saya harus punya stok ASI yang banyak untuk mencukupi kebutuhan anak saya. Dari hasil browsingan di internet, berdasarkan pengalaman ibu-ibu bekerja yang sukses memberi ASI kepada anaknya, ternyata seorang ibu harus punya alat tempur tersendiri untuk menjaga stok ASI. Yup, salah satu alat tempur yang harus dimiliki adalah Pompa Asi. Alat inilah yang pertama kali saya beli melalui jual beli online di internet.